Refleksi 100 Tahun Islam Moderat di Padang Panjang: Dari Simpul Muhammadiyah 1926 hingga Khidmat Konfercab NU 2026

 


PADANG PANJANG – Kota Padang Panjang kembali menegaskan posisinya sebagai barometer pergerakan Islam di Ranah Minang. Tepat satu abad setelah momentum bersejarah peresmian Cabang Muhammadiyah Padang Panjang pada Juni 1926, denyut nadi perjuangan umat kembali bergemuruh di Kota Serambi Mekkah melalui pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) III Nahdlatul Ulama (NU) Kota Padang Panjang yang sukses digelar pada Sabtu, 16 Mei 2026. Dua momentum besar yang terpaut jarak 100 tahun ini memancarkan pesan kuat tentang konsistensi, kolaborasi, dan khidmat keumatan yang tak pernah padam di tanah bako para ulama besar ini. Jejak Sejarah 1926: Fajar Muhammadiyah di Kota Serambi Mekkah Mundur satu abad ke belakang, sejarah mencatat bahwa Padang Panjang adalah salah satu rahim terpenting bagi perkembangan gagasan pembaruan Islam di Sumatra Barat. Berdasarkan catatan sejarah koleksi Soeara Moehammadijah (Juli 1926) dan Mailrapport, benih organisasi ini berawal dari inisiatif Saalah Jusuf Sutan Mangkuto, seorang pemuda asal Nagari Pitalah yang pulang dari Jawa. Pada 2 Juni 1926, Saalah bersama Datuk Sati mengalihkan gerakan Perkumpulan Tani menjadi embrio Muhammadiyah Cabang Padang Panjang. Di tengah dinamika sosial yang ketat, peresmian secara resmi akhirnya terlaksana pada malam Kamis, 25–26 Juni 1926, bertempat di kediaman ulama besar Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA) — ayah dari Buya HAMKA — di Gatangan. Pertemuan bersejarah tersebut dihadiri oleh 70 anggota perdana, dengan menetapkan Saalah Yusuf Sutan Mangkuto sebagai Ketua I dan Datuk Sati sebagai Ketua II. Menariknya, kekuatan Muhammadiyah di Padang Panjang kian kokoh berkat sokongan ulama Kaum Tua pembina Naqsyabandiyah asal Jaho, Syekh Muhammad Jamil Jaho. Beliau membantu memfasilitasi eks-Hotel Merapi sebagai pusat pergerakan, yang hingga hari ini kita kenal sebagai kawasan cagar budaya Kompleks Kauman Muhammadiyah Padang Panjang. Fajar 2026: Konfercab III NU Perkokoh Kebersamaan dan Moderasi Satu abad kemudian, spirit merawat tradisi dan membangun umat tersebut dilanjutkan secara khidmat oleh kaum Nahdliyin. Pada Sabtu, 16 Mei 2026, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Padang Panjang menggelar Konfercab III dengan mengusung tema "Kebersamaan & Khitmat Keumatan." Konferensi tertinggi di tingkat cabang ini menjadi momentum krusial untuk melakukan reorientasi organisasi demi merespons tantangan zaman modern, sekaligus memperkuat sinergi NU sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam menjaga persatuan, moderasi beragama, dan pembangunan karakter masyarakat. Melalui mekanisme organisasi yang dinamis dan penuh kekeluargaan, Konfercab III PCNU Kota Padang Panjang secara resmi menetapkan nakhoda baru untuk masa khidmat 2026–2031 Rais Syuriyah: Syamsuarni Ketua Tanfidziyah: Fahmi Duet kepemimpinan baru ini diharapkan mampu membawa PCNU Padang Panjang semakin solid, mengakar hingga ke level ranting (akar rumput), serta konsisten menghidupkan amaliah dan tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah yang selaras dengan filosofi adat Minangkabau: "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah." Catatan Refleksi oleh Ramlan Tuangku Guru Menilik perjalanan panjang dari tahun 1926 hingga 2026, Padang Panjang membuktikan diri bukan sekadar tempat bertemunya berbagai aliran pemikiran Islam, melainkan sebuah laboratorium sosial tempat integrasi ilmu dan amal terwujud. Kehadiran Muhammadiyah yang genap berusia 100 tahun di kota ini, bersanding harmoni dengan gerak langkah NU yang kian kokoh melalui Konfercab 2026, adalah potret indahnya ukhuwah Islamiyah. Keduanya adalah dua sayap yang menjaga terbang tingginya panji-panji Islam yang teduh, moderat, dan berkemajuan di Ranah Minang. Tugas generasi hari ini adalah merawat warisan emas ini agar tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. #Muhammadiyah100Tahun #KonfercabNUPadangPanjang #RamlanTuangkuGuru #SerambiMekkah #SejarahIslamMinangkabau #PCNUPadangPanjang #Muhammadiyah1926 #NahdlatulUlama2026 Tags Kategori & Wilayah #SumatraBarat #RanahMinang #BeritaIslam #TokohUlama #ModerasiBeragama #PendidikanIslam #KearifanLokal

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Secangkir Kopi dan Komitmen Keumatan: Catatan Pertemuan RTG dan Tan Gusli di Kanwil Kemenag

PENDIRI PALITO NAHDYIYIN ZIARAH Makam Tuo Gunung Nago