Postingan

Menampilkan postingan dari Mei 18, 2026

Menjaga "Ruh" di Balik Layar Digital Surau Kita

  Menjaga "Ruh" di Balik Layar Digital Surau Kita Belakangan ini, ada pemandangan baru kalau kita melongok ke dalam surau-surau di Kota Padang. Wajahnya mulai bersolek. Hadirnya program Smart Surau dari pemerintah daerah membawa angin modernisasi yang cukup terasa: dinding surau kini dihiasi layar digital, dan sinyal internet nirkabel mulai memancar di ruang-ruang sakral kita. Tentu, kita harus acungkan jempol untuk niat baik ini sebagai upaya agar rumah ibadah tidak gagap menghadapi laju zaman. Namun, di Tiangputih Institut , tugas kami adalah melakukan "Audit Gagasan"—melihat sesuatu dengan jernih, melampaui apa yang tampak di permukaan. Ada satu pertanyaan mendasar yang menggelitik hati kita bersama: Apakah kalau suraunya sudah otomatis digital, maka kecerdasan spiritual dan intelektual jamaahnya langsung melejit? Atau, jangan-jangan ini justru membuka pintu bagi kerentanan baru, termasuk tarikan pusaran politik praktis? Bagi kita yang paham tatanan sosial di Mi...

Titip Umat di Kota Padang ya, Buya Yasril...

Gambar
  Titip Umat di Kota Padang ya, Buya Yasril... Oleh: Editor Tiang Putih Institut Bagi saya, jabatan itu tidak pernah menjadi sebuah hadiah yang mesti dirayakan dengan tepuk tangan riuh. Jabatan, apa pun bentuknya, justru sebuah beban baru di pundak. Sebuah amanah yang kelak daftarnya akan ditagih satu per satu di hadapan Sang Pencipta. Hari ini, doa dan harapan terbaik saya ikut mengalir untuk sahabat saya, Dr. H. Yasril, M.A. Beliau baru saja melangkahkan kaki mendarat di tugas barunya: menakhodai Kantor Kementerian Agama Kota Padang. Jujur saja, memimpin Kemenag di kota yang se-hidup dan sedinamis Padang ini bukan perkara gampang. Urusannya kompleks sekali. Kemenag itu mengurusi urusan umat dari hulu ke hilir—mulai dari urusan sakral di KUA, masa depan anak-anak kita di madrasah, pelayanan haji, sampai urusan menjaga agar suasana keberagaman di kota ini tetap adem, tanpa ada gesekan. Tapi, mengenal karakter Buya Yasril selama ini, ada rasa optimis yang menyelip di hati saya. Bel...

Menjemput Senja yang Tenang di Rumah Sunnah Lansia Indonesia Oleh Ramlan Tuangku Guru

  Ada fase di mana hidup pelan-pelan mulai melambat. Rambut memutih, langkah kaki tak lagi kokoh, dan ingatan mulai sering melompat-lompat. Itu sunnatullah. Isyarat bahwa perjalanan di dunia sudah mendekati garis akhir. Di titik inilah, orang-orang tua kita—para lansia—seharusnya tidak boleh merasa sendirian. Tapi jujur saja, realitas di sekitar kita sering kali mengiris hati. Di tengah kepungan kesibukan hari ini, banyak lansia yang harus melewati hari-hari sepinya dalam ruang kosong. Mereka rindu obrolan hangat anak-cucu, sekaligus kerap dihantui rasa cemas: “Sudah cukupkah bekal saya untuk pulang nanti?” Berangkat dari kegelisahan itulah, Yayasan Rumah Sunnah Lansia Indonesia ini kami dirikan. Tempat ini lahir bukan sebagai panti jompo kaku atau sekadar tempat "menitipkan" orang tua agar tidak merepotkan. Sama sekali bukan. Kami ingin membangun sebuah rumah yang sesungguhnya—sebuah pelukan hangat bagi mereka yang mendambakan kedamaian di sisa usianya. Bukan Sekadar Merawa...

Refleksi 100 Tahun Islam Moderat di Padang Panjang: Dari Simpul Muhammadiyah 1926 hingga Khidmat Konfercab NU 2026

Gambar
  PADANG PANJANG – Kota Padang Panjang kembali menegaskan posisinya sebagai barometer pergerakan Islam di Ranah Minang. Tepat satu abad setelah momentum bersejarah peresmian Cabang Muhammadiyah Padang Panjang pada Juni 1926, denyut nadi perjuangan umat kembali bergemuruh di Kota Serambi Mekkah melalui pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) III Nahdlatul Ulama (NU) Kota Padang Panjang yang sukses digelar pada Sabtu, 16 Mei 2026. Dua momentum besar yang terpaut jarak 100 tahun ini memancarkan pesan kuat tentang konsistensi, kolaborasi, dan khidmat keumatan yang tak pernah padam di tanah bako para ulama besar ini. Jejak Sejarah 1926: Fajar Muhammadiyah di Kota Serambi Mekkah Mundur satu abad ke belakang, sejarah mencatat bahwa Padang Panjang adalah salah satu rahim terpenting bagi perkembangan gagasan pembaruan Islam di Sumatra Barat. Berdasarkan catatan sejarah koleksi Soeara Moehammadijah (Juli 1926) dan Mailrapport, benih organisasi ini berawal dari inisiatif Saalah Jusuf Sutan...

SertifikasiTanahUlayat: Antara Kepastian Hukum dan De-Adatisasi MinangkabauOleh: TiangPutih Institut

Gambar
  Sertifikasi Tanah Ulayat: Antara Kepastian Hukum dan De-Adatisasi Minangkabau Oleh: TiangPutih Institut Peristiwa "diamnya" gedung DPRD Sumatera Barat saat disambangi oleh para Niniak Mamak dan Bundo Kanduang pada 20 Januari 2026 bukan sekadar insiden administratif, melainkan sebuah lonceng peringatan akan terjadinya keretakan komunikasi antara negara dan pemangku adat. Deklarasi penolakan sertifikasi tanah ulayat ini membawa kita pada satu pertanyaan fundamental: Apakah negara sedang berupaya melindungi hak adat, atau justru sedang melakukan de-adatisasi secara halus melalui digitalisasi agraria? Benturan Paradigma: Komunal vs Individual Dalam kacamata hukum positif, sertifikasi adalah sakralisasi hak milik. Namun, bagi masyarakat Minangkabau, Tanah Ulayat Pusako Tinggi adalah ruang eksistensi yang bersifat komunal-transfinit. Tanah adat bukan sekadar aset ekonomi, melainkan "tubuh" dari sebuah kaum. Ketika negara memaksakan standarisasi sertifikasi, terdapat k...
Gambar
  Sertifikasi Tanah Ulayat: Antara Kepastian Hukum dan De-Adatisasi Minangkabau Oleh: TiangPutih Institut Peristiwa "diamnya" gedung DPRD Sumatera Barat saat disambangi oleh para Niniak Mamak dan Bundo Kanduang pada 20 Januari 2026 bukan sekadar insiden administratif, melainkan sebuah lonceng peringatan akan terjadinya keretakan komunikasi antara negara dan pemangku adat. Deklarasi penolakan sertifikasi tanah ulayat ini membawa kita pada satu pertanyaan fundamental: Apakah negara sedang berupaya melindungi hak adat, atau justru sedang melakukan de-adatisasi secara halus melalui digitalisasi agraria? Benturan Paradigma: Komunal vs Individual Dalam kacamata hukum positif, sertifikasi adalah sakralisasi hak milik. Namun, bagi masyarakat Minangkabau, Tanah Ulayat Pusako Tinggi adalah ruang eksistensi yang bersifat komunal-transfinit. Tanah adat bukan sekadar aset ekonomi, melainkan "tubuh" dari sebuah kaum. Ketika negara memaksakan standarisasi sertifikasi, terdapat k...

PENDIRI PALITO NAHDYIYIN ZIARAH Makam Tuo Gunung Nago

Gambar
Menjadikan makam tua yang berusia ratusan tahun sebagai situs spiritual atau cagar budaya memerlukan pendekatan yang terintegrasi antara penghormatan adat, legalitas hukum, dan pengelolaan lokasi. Di wilayah seperti Gunung Nago, koordinasi dengan pemangku adat serta pemerintah daerah adalah kunci utama. Berikut adalah langkah-langkah strategis yang dapat ditempuh: 1. Inventarisasi dan Riset Sejarah Sebelum melangkah ke ranah publik, kumpulkan data autentik mengenai makam tersebut: Identifikasi Tokoh: Mencatat silsilah atau sejarah tokoh yang dimakamkan (siapa beliau, perannya bagi masyarakat lokal, dan periode hidupnya). Bukti Fisik: Mendokumentasikan kondisi makam, nisan, serta artefak di sekitarnya. Foto dan pemetaan lokasi sangat diperlukan untuk pendaftaran cagar budaya. Tradisi Lisan: Mengumpulkan cerita rakyat atau testimoni dari tetua adat (Ninik Mamak) mengenai kesakralan situs tersebut. 2. Konsolidasi Adat dan Masyarakat Lokal Karena lokasi berada di wilayah yang kental ...

MUI Kota Padang Gelar Studi Komparatif ke Riau, H. Juli Armadhan Kurniawan Terima Amanah Kakan Kemenag

Gambar
  KAMPAR – Jajaran pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang melaksanakan kunjungan studi komparatif ke Kantor MUI Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, pada Ahad (17/5/2026). Kunjungan strategis ini dilakukan dalam rangka penguatan tata kelola kelembagaan, studi tiru program kerja, serta mempererat silaturahmi antar-ulama lintas provinsi. Dalam agenda penting ini, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Kota Padang, KH. Dr. H. Yasril, M.A., memberikan amanah resmi kepada H. Juli Armadhan Kurniawan, S.Sos.I., CWC. untuk hadir mewakili institusi Kementerian Agama Kota Padang. Penugasan ini mencerminkan sinergi kultural dan struktural yang sangat kuat. Pasalnya, Kakan Kemenag Kota Padang KH. Dr. H. Yasril, M.A. merupakan tokoh ulama yang juga duduk sebagai Pengurus PWNU Sumatra Barat. Sementara itu, H. Juli Armadhan Kurniawan yang menerima amanah tersebut merupakan figur sentral dalam berbagai organisasi keagamaan dan profesi, di mana beliau saat ini menjabat sebagai Ketu...