Titip Umat di Kota Padang ya, Buya Yasril...
Titip Umat di Kota Padang ya, Buya Yasril...
Oleh: Editor Tiang Putih Institut
Bagi saya, jabatan itu tidak pernah menjadi sebuah hadiah yang mesti dirayakan dengan tepuk tangan riuh. Jabatan, apa pun bentuknya, justru sebuah beban baru di pundak. Sebuah amanah yang kelak daftarnya akan ditagih satu per satu di hadapan Sang Pencipta.
Hari ini, doa dan harapan terbaik saya ikut mengalir untuk sahabat saya, Dr. H. Yasril, M.A. Beliau baru saja melangkahkan kaki mendarat di tugas barunya: menakhodai Kantor Kementerian Agama Kota Padang.
Jujur saja, memimpin Kemenag di kota yang se-hidup dan sedinamis Padang ini bukan perkara gampang. Urusannya kompleks sekali. Kemenag itu mengurusi urusan umat dari hulu ke hilir—mulai dari urusan sakral di KUA, masa depan anak-anak kita di madrasah, pelayanan haji, sampai urusan menjaga agar suasana keberagaman di kota ini tetap adem, tanpa ada gesekan.
Tapi, mengenal karakter Buya Yasril selama ini, ada rasa optimis yang menyelip di hati saya. Beliau bukan orang asing di dunia dakwah. Makanya, saya punya harapan besar, di bawah kepemimpinan beliau yang baru ini, Kantor Kemenag Padang tidak menjelma jadi gedung birokrasi yang dingin, kaku, dan berjarak dengan masyarakat. Kita ingin kantor itu jadi "Rumah Besar" yang ramah bagi siapa saja.
Sebagai sahabat, saya ingin menitipkan beberapa harapan kecil, yang mungkin juga menjadi harapan kita bersama:
Jangan Betah di Belakang Meja: Kita merindukan sosok pemimpin yang baju atau sepatunya mau kotor di lapangan. Saya berharap Buya Yasril sering-sering turun ke bawah—menyapa guru-guru madrasah yang berjuang di sudut kota, mendengar curhat para penyuluh agama, dan duduk melingkar bersama anak-anak muda di surau. Di era digital yang serba cepat ini, anak kemenakan kita butuh dirangkul, bukan sekadar diberi instruksi lewat surat edaran.
Selesaikan Masalah dengan Secangkir Kopi: Kota Padang ini kental dengan adat dan agama. Kalau nanti ada riak atau kesalahpahaman di tengah masyarakat, saya berharap Buya Yasril tampil sebagai penyejuk. Datangi para ulama, rangkul Niniak Mamak, ajak duduk bersama dengan hati yang lapang. Sentuhan humanis dan ketulusan itu jauh lebih mempan dibanding aturan yang kaku.
Mudahkan Urusan Masyarakat: Agama kita selalu mengajarkan untuk mempermudah urusan orang lain. Semoga di awal masa bakti ini, semua lini pelayanan di Kemenag Padang—entah itu urusan haji, administrasi, atau apa pun—bisa berjalan lebih cepat, transparan, dan tanpa dipersulit.
Langkah awal ini baru saja dimulai, Buya. Perjalanan ke depan pasti tidak selalu mulus, kadang ada kerikilnya. Tapi saya percaya, dengan modal kerendahan hati dan komunikasi yang luwes, Buya Yasril bisa membawa Kemenag Padang ke arah yang lebih membawa maslahat.
Selamat bertugas dan selamat mengabdi, Buya. Jadikan tempat baru ini sebagai ladang dakwah terbaik dan tabungan amal jariyah kita untuk hari pulang nanti.
Barakallahu fiik. Semoga Allah selalu menguatkan pundakmu, menjaga kesehatanmu, dan merawat keikhlasan di hatimu. Amin.

Komentar
Posting Komentar